Jumat, 19 Desember 2014

26 Desember 2004. Duka Akhir Tahun :')

Nama : Yasmin Arafaina
Nim   : 1210102010159
Kelas : 03
 
 
            Peristiwa yang memilukan kita semua terjadi di bumi Aceh tercnta. Gempa dan Tsunami Aceh pada hari Minggu pagi 26 Desember 2004, kurang lebih 500.000 ribu nyawa melayang dihempas ombak tsunami yang dahsyat dalam sekejab. Di Aceh merupakan korban jiwa terbesar di dunia, setelah tsunami menghempas beberapa negara. gempa terjadi pada pukul 7:58 WIB pagi. Gempa ini berkekuatan 9,8 skala richter dan dengan ini merupaka gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka sampai Pantai Timur Afrika.
            Gelombang pasang air laut itu merusak sebagian besar kota Acwh dan wilayah sekitarnya. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara adala wilaya terparah yang di porak-porandakan oleh air bah. Kerugian material yang diakibatkan bencana ini ditaksir sampai triliunan rupiah. Banyak saran transportasi, komuniakis, dan infrastruktur lainnya hancur ditelan gelombang air pasang. Kota yang dulunya dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan batu, semuanya hampir rata dengan tanah.
            Dari cerita saya sendiri, pada saat pagi itu saya yang masih berumur 10 tahun yang menduduki kelas 5 SD, lagi menonton kartun Doraemon, ya memang pada saat iu hari minggu dan memang hari minggu pagi disebuah stasiun televisi memutar kartun anak. Saya yang sedang asik menonton, tetibanya rumah bergoyang. Awalnya saya tidak tahu apa itu, tidak lama kemudian TV mati. Saya yang lagi nonton sendiri mulai panik, mulai teriak memanggil orang tua saya. Waktu itu bapak saya lagi digarasi memanasi mobil dan ibu saya lagi berdiri diluar bersama tetangga saya. Saya dengan paniknya berlari keluar, dengan tanpa sadar saya menabrak pintu dan kaki saya berdarah banya karna terpijak batu runcing. Saya menangis karna saya belum tau apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Sekitar 15 menit gempa berlangsung dan mulai berhenti, tidak lama dari itu terjaid lagi gempa susulan.
            Setelah gempa mulai berhenti, tidak lama dari itu saya mendengar seperti suara letusan yang cukup kencang seperti bom meledak. Setelah mencari-cari tau itu suara apa, akhirnya tau kalau itu telah terjadi tsunami didaerah yang kawasan dekat laut. Pada saat itu juga, sekolah-sekolah pada diliburkan, semua aktivitas diseluruh kota berhenti.
            Saya sendiri tidak terkena tsunami, karena rumah saya jauh dari daerah laut. Dan kami pun sekeluarga tidak mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Tapi kamu selalu siaga apabila ada gempa susulan terjadi dan ada iming-iming tsunami akan terjadi lagi. Semua jaringan komuniksi terputus, sehingga tidak bisa menghubungi dan mengabarkan keluarga yang ada diluar Aceh. Begitu juga listrik, cukup lama padam listrik pada waktu itu. Setelah beberapa minggu tsunami melanda Aceh, apabila kami keluar ke daerah kota harus memakai masker, itu dikarenakan baunya mayat-mayat yang masih tercium. Saya juga pernah ke daerah Lhoknga saat itu bersama orang tua saya, ketika melihat didaerah tersebut cukup menyentuh hati kita semua, karena rata-rata rumah disana rata dengan tanah, dan saya masih ada melihat mayat yang masih diumpulkan di pinggir jalan dan itu sangat bau menusuk hidung. Sedih melihat itu semua.
            Sejak saat itu juga, relawan-relawan mulai berdatangan ke Aceh. Mulai relawan dari dalam negeri maupun luar negeri. Banyak juga bantuan sampai ke Aceh seperti bahan makanan, pakaian layak dan obat-obatan. Karena saat itu memang orang-orang yang terkena tsunami yang tinggal di barak sangat membutuhkan itu semua. Apalagi saat itu para pengungsi kekurangan air bersih, sehingga penyakit cepat sekali terjangkit.
            Aktivitas mulai aktif kembali sekitaran bulan Februari 2005, saya muali kembali sekolah. Saya terkejut melihat keadaan sekolah waktu itu, apalagi ruang kepala sekolah dan ruang guru, hancur karna tertimpa bangunan tinggi yang ada disamping sekolah. Saat itu pembelajaran belum terlalu aktif sekali.
            Beberapa teman disekolah ada yang terkena tsunami, bahkan ada yang meninggal, Sari namanya. Dia teman dekat saya, anaknya baik bahkan pintar pula. Saat hari terakhir sekolah, Sari agak berbeda memang entah karna itu pertanda atau tidak saya pun tidak ngerti. Jadi pada hari sabtu tersebut dia pulang kerumahnya di Kaju, sehari-harinya dia biasa tinggal ditempat neneknya di Peuniti. Dan hari minggu itupun terjadi tsunami, Sari dan keluarganya terhanyut oleh Tsunami. Saya sangat sedih mendengar kalau teman dekaat saya meninggal karena tsunami. Mungkin itulah tanda-tamda yamg dinampakkan Sari pada hari terakhir sekolah.
            Tsunami telah meluluh-lantakkan sebagian besar bumi Aceh. Banyak orang yang merasa kehilangan sanak saudara dan teman. Tanah yang tadi nya hijau subur, perumahan yang tertata rapi dan baik, hancur musnah dalam hitungan jam dan tertinggal sampah serta tubuh-tubuh tidak bernyawa. Aceh menangis, Indonesia berduka dan duniapun mengulurkan tangan sebagi bentuk solidaritas sesama umat manusia.
            26 Desember 2004 – 26 Desember 2014, 10 tahun sudah bencana besar gempa dan tsunami telah berhasil kita lewati. Banyak hikmah dibalik bencana tersebut, seperti pada pembangunan di Aceh sendiri, lebih banyak kemajuan akibat adanya bantuan dari orang-orang luar demi membuat Aceh hilang dari rasa keterpurukan dan kesedihan yang mendalam.