Nama : Yasmin Arafaina
Nim : 1210102010159
Kelas : 03
Peristiwa yang memilukan kita
semua terjadi di bumi Aceh tercnta. Gempa dan Tsunami Aceh pada hari Minggu
pagi 26 Desember 2004, kurang lebih 500.000 ribu nyawa melayang dihempas ombak tsunami yang dahsyat
dalam sekejab. Di Aceh merupakan korban jiwa terbesar di dunia, setelah tsunami
menghempas beberapa negara. gempa terjadi pada pukul 7:58 WIB pagi. Gempa ini
berkekuatan 9,8 skala richter dan dengan ini merupaka gempa bumi terdahsyat
dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Pantai Barat
Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka sampai Pantai
Timur Afrika.
Gelombang pasang air laut itu
merusak sebagian besar kota Acwh dan wilayah sekitarnya. Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara adala wilaya terparah yang di
porak-porandakan oleh air bah. Kerugian material yang diakibatkan bencana ini
ditaksir sampai triliunan rupiah. Banyak saran transportasi, komuniakis, dan
infrastruktur lainnya hancur ditelan gelombang air pasang. Kota yang dulunya
dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan batu, semuanya hampir rata
dengan tanah.
Dari cerita saya sendiri, pada saat
pagi itu saya yang masih berumur 10 tahun yang menduduki kelas 5 SD, lagi
menonton kartun Doraemon, ya memang pada saat iu hari minggu dan memang hari
minggu pagi disebuah stasiun televisi memutar kartun anak. Saya yang sedang
asik menonton, tetibanya rumah bergoyang. Awalnya saya tidak tahu apa itu,
tidak lama kemudian TV mati. Saya yang lagi nonton sendiri mulai panik, mulai
teriak memanggil orang tua saya. Waktu itu bapak saya lagi digarasi memanasi
mobil dan ibu saya lagi berdiri diluar bersama tetangga saya. Saya dengan
paniknya berlari keluar, dengan tanpa sadar saya menabrak pintu dan kaki saya
berdarah banya karna terpijak batu runcing. Saya menangis karna saya belum tau
apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Sekitar 15 menit gempa berlangsung
dan mulai berhenti, tidak lama dari itu terjaid lagi gempa susulan.
Setelah gempa mulai berhenti, tidak
lama dari itu saya mendengar seperti suara letusan yang cukup kencang seperti
bom meledak. Setelah mencari-cari tau itu suara apa, akhirnya tau kalau itu
telah terjadi tsunami didaerah yang kawasan dekat laut. Pada saat itu juga,
sekolah-sekolah pada diliburkan, semua aktivitas diseluruh kota berhenti.
Saya sendiri tidak terkena tsunami,
karena rumah saya jauh dari daerah laut. Dan kami pun sekeluarga tidak
mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Tapi kamu selalu siaga apabila ada gempa
susulan terjadi dan ada iming-iming tsunami akan terjadi lagi. Semua jaringan
komuniksi terputus, sehingga tidak bisa menghubungi dan mengabarkan keluarga
yang ada diluar Aceh. Begitu juga listrik, cukup lama padam listrik pada waktu
itu. Setelah beberapa minggu tsunami melanda Aceh, apabila kami keluar ke
daerah kota harus memakai masker, itu dikarenakan baunya mayat-mayat yang masih
tercium. Saya juga pernah ke daerah Lhoknga saat itu bersama orang tua saya,
ketika melihat didaerah tersebut cukup menyentuh hati kita semua, karena
rata-rata rumah disana rata dengan tanah, dan saya masih ada melihat mayat yang
masih diumpulkan di pinggir jalan dan itu sangat bau menusuk hidung. Sedih
melihat itu semua.
Sejak saat itu juga, relawan-relawan
mulai berdatangan ke Aceh. Mulai relawan dari dalam negeri maupun luar negeri.
Banyak juga bantuan sampai ke Aceh seperti bahan makanan, pakaian layak dan
obat-obatan. Karena saat itu memang orang-orang yang terkena tsunami yang
tinggal di barak sangat membutuhkan itu semua. Apalagi saat itu para pengungsi
kekurangan air bersih, sehingga penyakit cepat sekali terjangkit.
Aktivitas mulai aktif kembali
sekitaran bulan Februari 2005, saya muali kembali sekolah. Saya terkejut
melihat keadaan sekolah waktu itu, apalagi ruang kepala sekolah dan ruang guru,
hancur karna tertimpa bangunan tinggi yang ada disamping sekolah. Saat itu
pembelajaran belum terlalu aktif sekali.
Beberapa teman disekolah ada yang
terkena tsunami, bahkan ada yang meninggal, Sari namanya. Dia teman dekat saya,
anaknya baik bahkan pintar pula. Saat hari terakhir sekolah, Sari agak berbeda
memang entah karna itu pertanda atau tidak saya pun tidak ngerti. Jadi pada
hari sabtu tersebut dia pulang kerumahnya di Kaju, sehari-harinya dia biasa
tinggal ditempat neneknya di Peuniti. Dan hari minggu itupun terjadi tsunami,
Sari dan keluarganya terhanyut oleh Tsunami. Saya sangat sedih mendengar kalau
teman dekaat saya meninggal karena tsunami. Mungkin itulah tanda-tamda yamg
dinampakkan Sari pada hari terakhir sekolah.
Tsunami telah meluluh-lantakkan
sebagian besar bumi Aceh. Banyak orang yang merasa kehilangan sanak saudara dan
teman. Tanah yang tadi nya hijau subur, perumahan yang tertata rapi dan baik,
hancur musnah dalam hitungan jam dan tertinggal sampah serta tubuh-tubuh tidak
bernyawa. Aceh menangis, Indonesia berduka dan duniapun mengulurkan tangan
sebagi bentuk solidaritas sesama umat manusia.
26 Desember 2004 – 26 Desember 2014,
10 tahun sudah bencana besar gempa dan tsunami telah berhasil kita lewati.
Banyak hikmah dibalik bencana tersebut, seperti pada pembangunan di Aceh
sendiri, lebih banyak kemajuan akibat adanya bantuan dari orang-orang luar demi
membuat Aceh hilang dari rasa keterpurukan dan kesedihan yang mendalam.